Noel Forum

Tampilkan postingan dengan label berserah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berserah. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2012

Berserah pada Tuhan



Berserah pada Tuhan
Nats: Yeremia 11 : 18 - 23
Memberitakan firman Tuhan bukanlah pekerjaan yang ringan, enteng dan mudah. Sebab menyatakan firman Tuhan adalah menyatakan kebenaran, menyatakan hal yang bertentangan dengan keinginan atau hasrat manusia dan yang sering mendapat reaksi negatif dari manusia itu sendiri. Manusia tidak selalu bersikap positif dalam merespon kebenaran yang disampaikan sekalipun itu adalah firman Tuhan. Kebenaran yang disampaikan kadang-kala mendatangkan hujatan bahkan rancangan kejahatan seperti pembunuhan misalnya. Hal seperti itulah yang dialami oleh nabi Yeremia, ketika ia diutus Tuhan menyampaikan firmanNya ke tengah-tengah bangsa Israel.
Nabi Yeremia bukanlah nabi yang asing bagi kita. Yeremia berasal dari Anatot, keturunan seorang imam dan telah dipanggil Tuhan sejak dari kandungan ibunya. Ia adalah seorang nabi yang jujur, tulus dan polos. Ia memberitakan Firman Tuhan dengan berani kepada bangsa Yehuda. Tetapi pada kenyataannya orang Yehuda bukannya mendengarkan Firman Tuhan yang disampaikannya, melainkan mereka malah bersekongkol untuk melakukan perkara jahat kepada Yeremia.
Dalam nats hari ini justru kaumnya sendiri dari Anatot yang merencanakan kejahatan pembunuhan terhadap dirinya.
Pada pasal sebelumnya diceritakan bagaimana bangsa Yehuda melakukan pelanggaran yaitu mereka menyembah dewa Baal bukan menyembah Tuhan sebagai Allah mereka. Dihadapan Tuhan mereka membakar korban bakaran sebagai persembahan bagi dewa Baal. Bangsa Yehuda tidak lagi mengingat dan peduli dengan perjanjian nenek moyang mereka untuk taat dan mendengarkan perkataan Tuhan. Disinilah letak kesalahan mereka yang membuat Tuhan marah namun Tuhan masih mengasihi mereka dengan mengutus seorang nabi Yeremia.
Sesuai panggilannya, nabi Yeremia menyampaikan segala apa yang difirmankan Tuhan kepada bangsa Yehuda (orang-orang Anatot). Ia mengingatkan akan kesalahan yang mereka lakukan, mengingatkan mereka untuk bertobat dan menubuatkan hukuman Tuhan atas pelanggaran yang mereka lakukan. Peringatan yang disampaikan nabi Yeremia membuat kegeraman dan kemarahan bangsa Yehuda khususnya orang-orang Anatot dimana nabi Yeremia berasal. Peringatan Tuhan justru mengeraskan hati mereka untuk semakin jauh melanggar perintah Tuhan. Ditengah-tengah kegeraman itu timbul pemikiran dan rencana jahat mereka untuk menghabisi nyawa nabi Yeremia karena nabi ini selalu menyampaikan kebenaran yang menyakitkan hati mereka tidak seperti nabi lain yang selalu menyampaikan hal-hal yang mereka sukai. Disinilah letak perbedaan nabi Yeremia dengan nabi lain saat itu, nabi lain menyampaikan apa yang disukai bangsa Yehuda dan menyetujui kesalahan yang dilakukan bangsa Yehuda tetapi berbeda dengan nabi Yeremia, justru nabi ini mengingatkan mereka dengan keras untuk bertobat yang sudah barang tentu tidak disukai bangsa Yehuda.
Nabi Yeremia yang berhati jujur dan polos bagai anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih tidak tahu rencana bangsanya sendiri atas dirinya. Namun Tuhan yang mengetahui isi batin dan hati manusia, mengetahui rencana jahat mereka terhadap nabi Yeremia, dan memberitahukannya kepada nabi Yeremia (ay 18).
Bagaimanakah reaksi nabi Yeremia terhadap kejahatan bangsanya, ia tidak marah apalagi mendendam. Reaksi Nabi Yeremia ketika tahu bahwa penduduk Anatot berencana membunuhnya ialah: menyerahkan perkaranya pada Allah sambil terus menyuarakan kebenaran Allah. Ia tidak takut ancaman pembunuhan itu sebab ia tahu siapa yang mengutusnya dan firman siapa yang ia sampaikan. Dari pada takut, marah, dendam, melakukan pembalasan, Yeremia lebih memilih menyerahkan perkaranya kepada Allah yang telah mengutusnya. Ia yakin bahwa Allah tidak akan tinggal diam tetapi akan menunjukkan keadilan kepada hamba-hambaNya (ay 20).
Hal ini menjadi teladan bagi kita, orang Kristen, belajar dari sikap nabi Yeremia yaitu keteguhan, kesetiaan, dan penyerahan diri kepada Tuhan
Orang Kristen diminta tetap mau menyatakan /  memberitakan kebenaran walau itu mengandung resiko. Ada kemungkinan jika kita bertindak benar, jujur dan adil di tengah-tengah kebohongan dan kepalsuan hidup pada masa kini, kita juga akan menghadapi aneka tekanan dan ancaman, dan kita akan merasa sendirian seolah berada ‘di ujung tanduk’.
Dalam situasi seperti itu dapat timbul godaan untuk meninggalkan kesetiaan kita, tidak lagi mau menyatakan hal kebenaran. Dan dihadapkan pada dua pilihan bagi orang Kristen yang menghadapi situasi demikian: maju terus atau mundur!
Puji Tuhan, dari sejarah Alkitab, kita tahu bahwa ada banyak hamba Allah yang berani menanggung resiko demi menjalankan tugas dan tanggungjawab yang telah Allah berikan. Juga dalam sejarah gereja, ada banyak misionaris (penginjil) yang tetap memilih kata pantang mundur apalagi menyerah! untuk melayani Allah melalui jemaatNya.
Sama seperti Yeremia, setiap hamba Tuhan atau orang Krsiten akan menghadapi resiko pelayanan atau resiko dalam mempertahankan iman percayanya. Dibenci, difitnah, dianiaya bahkan dibeberapa tempat ada yang dibunuh. Namun nats ini mengajarkan pada kita untuk tidak ada kata mundur apalagi menyerah! Sebab kita tahu dan mengenal siapa yang mengutus kita, siapa yang kita percayai yaitu Tuhan Allah yang kita percayai dalam nama Yesus Kristus.
Selain itu juga nats ini mengantar kita pada pertanyaan bagaimanakah sikap kita terhadap firman Tuhan yang terkadang membuat kita sakit hati karena kebenarannya mengungkapkan kesalahan kita. Apakah kita bersikap seperti orang – orang Anatot yang tidak peduli, membenci kebenaran bahkan berencana untuk membunuh orang yang memberitakan kebenaran? Ataukah kita mau dengan hati terbuka mendengar firman Tuhan dan berbalik setia kepada Tuhan sepanjang hidup kita? Semua tergantung pada kita namun melalui nats ini kita diingatkan segala hal yang kita lakukan dan atau pilih akan membawa akibat. Bila kita memilih setia terhadap firman Tuhan bahkan memberitakannya, maka Tuhan akan tetap beserta dengan kita dalam menghadapi berbagai masalah yang dihadapi, Dia akan bertanggung jawab atas hidup kita. Bila kita memilih untuk tidak mau mendengar firman Tuhan maka seperti nubuatan dalam nats ini (ay 22-23) kita dan keturunan kita akan hidup sia-sia bahkan malapetaka akan datang pada waktu hukuman Tuhan.
Saudara-saudara, seperti gambaran penderitaan nabi Yeremis, sebagai seorang Kristen yang percaya pada Kristus kita tidak akan luput dari masalah karena iman percaya kita. Jika kita mengalami atau menghadapi berbagai masalah dan ancaman dalam pernyataan diri kita sebagai seorang pengikut Kristus apalagi dalam memberitakan kebenaran firman Allah, marilah kita tetap tegar, lemah lembut dan rendah hati, setia pada iman percaya, pada tugas dan panggilan kita dan dalam hati berdoa seperti Yeremia: ”Kepada-Mulah kuserahkan perkaraku”(ay 20b). Sebab kita percaya bahwa Allah senantiasa menyertai dan mendampingi kita. Percayalah bahwa kebenaran, keadilan dan kejujuran pasti akan menang atas kebohongan, kepalsuan dan ketidakadilan. Dalam 2 Tesalonika 3:3 dikatakan “Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat.”  Maka tetaplah setia didalam hidup beriman dan percaya kepada Yesus Kristus. Amin


St H. Sipahutar
Majelis HKBP Bandung Reformanda