Berserah
pada Tuhan
Nats:
Yeremia 11 : 18 - 23
Memberitakan firman Tuhan
bukanlah pekerjaan yang ringan, enteng dan mudah. Sebab menyatakan firman Tuhan
adalah menyatakan kebenaran, menyatakan hal yang bertentangan dengan keinginan
atau hasrat manusia dan yang sering mendapat reaksi negatif dari manusia itu
sendiri. Manusia tidak selalu bersikap positif dalam merespon kebenaran yang disampaikan
sekalipun itu adalah firman Tuhan. Kebenaran yang disampaikan kadang-kala
mendatangkan hujatan bahkan rancangan kejahatan seperti pembunuhan misalnya.
Hal seperti itulah yang dialami oleh nabi Yeremia, ketika ia diutus Tuhan
menyampaikan firmanNya ke tengah-tengah bangsa Israel.
Nabi Yeremia bukanlah nabi yang asing
bagi kita. Yeremia berasal dari Anatot, keturunan seorang imam dan telah
dipanggil Tuhan sejak dari kandungan ibunya. Ia adalah seorang nabi yang jujur,
tulus dan polos. Ia memberitakan Firman Tuhan dengan berani kepada bangsa
Yehuda. Tetapi pada kenyataannya orang Yehuda bukannya mendengarkan Firman Tuhan
yang disampaikannya, melainkan mereka malah bersekongkol untuk melakukan perkara
jahat kepada Yeremia.
Dalam nats hari ini justru
kaumnya sendiri dari Anatot yang merencanakan kejahatan pembunuhan terhadap
dirinya.
Pada pasal sebelumnya diceritakan
bagaimana bangsa Yehuda melakukan pelanggaran yaitu mereka menyembah dewa Baal
bukan menyembah Tuhan sebagai Allah mereka. Dihadapan Tuhan mereka membakar
korban bakaran sebagai persembahan bagi dewa Baal. Bangsa Yehuda tidak lagi
mengingat dan peduli dengan perjanjian nenek moyang mereka untuk taat dan
mendengarkan perkataan Tuhan. Disinilah letak kesalahan mereka yang membuat
Tuhan marah namun Tuhan masih mengasihi mereka dengan mengutus seorang nabi Yeremia.
Sesuai panggilannya, nabi Yeremia
menyampaikan segala apa yang difirmankan Tuhan kepada bangsa Yehuda
(orang-orang Anatot). Ia mengingatkan akan kesalahan yang mereka lakukan,
mengingatkan mereka untuk bertobat dan menubuatkan hukuman Tuhan atas
pelanggaran yang mereka lakukan. Peringatan yang disampaikan nabi Yeremia
membuat kegeraman dan kemarahan bangsa Yehuda khususnya orang-orang Anatot
dimana nabi Yeremia berasal. Peringatan Tuhan justru mengeraskan hati mereka
untuk semakin jauh melanggar perintah Tuhan. Ditengah-tengah kegeraman itu
timbul pemikiran dan rencana jahat mereka untuk menghabisi nyawa nabi Yeremia
karena nabi ini selalu menyampaikan kebenaran yang menyakitkan hati mereka
tidak seperti nabi lain yang selalu menyampaikan hal-hal yang mereka sukai.
Disinilah letak perbedaan nabi Yeremia dengan nabi lain saat itu, nabi lain
menyampaikan apa yang disukai bangsa Yehuda dan menyetujui kesalahan yang
dilakukan bangsa Yehuda tetapi berbeda dengan nabi Yeremia, justru nabi ini
mengingatkan mereka dengan keras untuk bertobat yang sudah barang tentu tidak
disukai bangsa Yehuda.
Nabi Yeremia yang berhati jujur
dan polos bagai anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih tidak tahu
rencana bangsanya sendiri atas dirinya. Namun Tuhan yang mengetahui isi batin
dan hati manusia, mengetahui rencana jahat mereka terhadap nabi Yeremia, dan
memberitahukannya kepada nabi Yeremia (ay 18).
Bagaimanakah reaksi nabi Yeremia
terhadap kejahatan bangsanya, ia tidak marah apalagi mendendam. Reaksi Nabi
Yeremia ketika tahu bahwa penduduk Anatot berencana membunuhnya ialah: menyerahkan
perkaranya pada Allah sambil terus menyuarakan kebenaran Allah. Ia tidak
takut ancaman pembunuhan itu sebab ia tahu siapa yang mengutusnya dan firman
siapa yang ia sampaikan. Dari pada takut, marah, dendam, melakukan pembalasan,
Yeremia lebih memilih menyerahkan perkaranya kepada Allah yang telah
mengutusnya. Ia yakin bahwa Allah tidak akan tinggal diam tetapi akan
menunjukkan keadilan kepada hamba-hambaNya (ay 20).
Hal ini menjadi teladan bagi kita,
orang Kristen, belajar dari sikap nabi Yeremia yaitu keteguhan, kesetiaan, dan
penyerahan diri kepada Tuhan
Orang Kristen diminta tetap mau menyatakan
/ memberitakan kebenaran walau itu mengandung
resiko. Ada kemungkinan jika kita
bertindak benar, jujur dan adil di tengah-tengah kebohongan dan kepalsuan hidup
pada masa kini, kita juga akan menghadapi aneka tekanan dan ancaman, dan kita
akan merasa sendirian seolah berada ‘di ujung tanduk’.
Dalam situasi seperti itu dapat
timbul godaan untuk meninggalkan kesetiaan kita, tidak lagi mau menyatakan hal kebenaran.
Dan dihadapkan pada dua pilihan bagi orang Kristen yang menghadapi situasi
demikian: maju terus atau mundur!
Puji Tuhan, dari sejarah Alkitab,
kita tahu bahwa ada banyak hamba Allah yang berani menanggung resiko demi
menjalankan tugas dan tanggungjawab yang telah Allah berikan. Juga dalam
sejarah gereja, ada banyak misionaris (penginjil) yang tetap memilih kata pantang
mundur apalagi menyerah! untuk melayani Allah melalui jemaatNya.
Sama seperti Yeremia, setiap
hamba Tuhan atau orang Krsiten akan menghadapi resiko pelayanan atau resiko
dalam mempertahankan iman percayanya. Dibenci, difitnah, dianiaya bahkan dibeberapa
tempat ada yang dibunuh. Namun nats ini mengajarkan pada kita untuk tidak ada
kata mundur apalagi menyerah! Sebab kita tahu dan mengenal siapa
yang mengutus kita, siapa yang kita percayai yaitu Tuhan Allah yang kita
percayai dalam nama Yesus Kristus.
Selain itu juga nats ini
mengantar kita pada pertanyaan bagaimanakah sikap kita terhadap firman Tuhan
yang terkadang membuat kita sakit hati karena kebenarannya mengungkapkan
kesalahan kita. Apakah kita bersikap seperti orang – orang Anatot yang tidak
peduli, membenci kebenaran bahkan berencana untuk membunuh orang yang
memberitakan kebenaran? Ataukah kita mau dengan hati terbuka mendengar firman
Tuhan dan berbalik setia kepada Tuhan sepanjang hidup kita? Semua tergantung
pada kita namun melalui nats ini kita diingatkan segala hal yang kita lakukan
dan atau pilih akan membawa akibat. Bila kita memilih setia terhadap firman
Tuhan bahkan memberitakannya, maka Tuhan akan tetap beserta dengan kita dalam
menghadapi berbagai masalah yang dihadapi, Dia akan bertanggung jawab atas
hidup kita. Bila kita memilih untuk tidak mau mendengar firman Tuhan maka
seperti nubuatan dalam nats ini (ay 22-23) kita dan keturunan kita akan hidup
sia-sia bahkan malapetaka akan datang pada waktu hukuman Tuhan.
Saudara-saudara, seperti gambaran
penderitaan nabi Yeremis, sebagai seorang Kristen yang percaya pada Kristus kita
tidak akan luput dari masalah karena iman percaya kita. Jika kita mengalami
atau menghadapi berbagai masalah dan ancaman dalam pernyataan diri kita sebagai
seorang pengikut Kristus apalagi dalam memberitakan kebenaran firman Allah,
marilah kita tetap tegar, lemah lembut dan rendah hati, setia pada iman
percaya, pada tugas dan panggilan kita dan dalam hati berdoa seperti Yeremia: ”Kepada-Mulah
kuserahkan perkaraku”(ay 20b). Sebab kita percaya bahwa Allah senantiasa
menyertai dan mendampingi kita. Percayalah bahwa kebenaran, keadilan dan
kejujuran pasti akan menang atas kebohongan, kepalsuan dan ketidakadilan. Dalam 2 Tesalonika 3:3 dikatakan “Tetapi Tuhan adalah setia. Ia
akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat.” Maka tetaplah setia didalam hidup beriman dan
percaya kepada Yesus Kristus. Amin
St H. Sipahutar
Majelis HKBP Bandung
Reformanda

Tidak ada komentar:
Posting Komentar